Kemajuan
teknologi sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, tak terkecuali siswa
Sekolah Dasar (SD). Adanya televisi yang
menyajikan tontonan menarik seperti
kartun, game dari gadget yang
menyajikan banyak permainan yang menarik sangat berpengaruh terhadap kehidupan
siswa. Tidak heran jika anak-anak SD lebih suka di depan televisi daripada
belajar, apalagi membaca buku.
Saat
ini budaya baca di Indonesia masih sangat rendah. Duta Baca Nasional Najwa Shihab menyampaikan bahwa minat baca masyarakat
Indonesia masih sangat kurang. Menurut survei UNESCO tahun 2015, minat baca masyarakat Indonesia sebesar 0,001
persen atau hanya satu dari 1000 orang Indonesia yang suka
membaca. Menurut kajian Perpustakaan
Nasional pada 2015 angka minat baca
Indonesia masih rendah yakni di angka 25,1.
Dengan
minat baca yang rendah, maka tentu budaya baca belum menjadi sesuatu yang
menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia. Buktinya, jika kita melihat anak-anak di hari libur masih
banyak anak yang lebih suka bermain game
dan menonton televisi daripada membaca. Buku-buku selain buku pelajaran juga jarang ditemukan di tas anak-anak Sekolah Dasar.
Ada
beberapa bukti lain bahwa membaca belum menjadi budaya pada masyarakat kita. Dapat
kita lihat misalnya sedikitnya pengunjung perpustakaan daerah. Perpustakaan sekolah
juga hanya sedikit yang mengunjungi. Anak-anak
lebih suka bermain pada saat istirahat di sekolah. Masih banyak juga guru yang tidak suka membaca buku baik di rumah maupun di sekolah..
Masyarakat
akan lebih maju jika mempunyai budaya
baca yang tinggi. Sebagai contoh di Jepang. Masyarakat Jepang terbiasa membaca
di manapun berada. Budaya baca sudah menjadi
suatu yang dapat dilihat di Jepang. Pada transportasi umum di Jepang, orang lebih suka memegang
dan membaca buku daripada alat komunikasi.
Membaca
banyak manfaatnya. Orang yang banyak membaca akan mempunyai daya pemahaman yang
lebih dibanding dengan orang yang tidak suka membaca. Daya ingat orang yang
suka membaca akan lebih baik. Pengetahuan dan wawasan bertambah dan dengan membaca juga akan
lebih dapat mengatasi masalah.
Membaca
tidak hanya membaca buku. Membaca dapat dilakukan dengan membaca dari internet.
Namun membaca pengetahuan dari internet terkadang belum tentu benar tentang isi beritanya. Maka meskipun membaca internet,
tetapi harus didukung dengan membaca
buku. Bagi anak Sekolah Dasar, bimbingan
dan pendampingan dari orang tua sangat dibutuhkan.
Usia
anak Sekolah Dasar yang cenderung meniru sebaiknya diarahkan untuk hal yang
positif diantaranya dengan membaca.
Membaca yang dilakukan sejak dini dapat menumbuhkan budaya membaca
sampai remaja bahkan dewasa. Dengan membaca karakter anak juga akan lebih baik.
Tentunya buku yang disajikan sebaiknya yang mengandung nilai moral yang baik.
Bacaan
sangat berpengaruh dalam pendidikan anak Sekolah Dasar. Karena kepribadian anak
dapat terbentuk dengan membaca. Anak yang suka membaca akan lebih dalam ilmu
yang dia miliki. Jika dia suka membaca buku cerita, bisa saja akhlaknya akan
semakin bagus karena tentu akan melakukan seperti apa yang dia baca, Misalnya bahwa
orang yang bebuat baik akan mendapat sesuatu yang baik pula.
Dengan
rendahnya budaya baca masyarakat Indonesia saat ini, sebenarnya ada beberapa
cara yang bisa dilakukan untuk
menumbuhkan budaya baca di Sekolah Dasar diantaranya:
1.
Pemberian fasilitas sekolah yang memadai
Fasilitas yang memadai sangat dibutuhkan dalam menumbuhkan budaya membaca. Misalnya di
Sekolah Dasar dapat disediakan perpustakaan yang lengkap. Berbagai buku dapat
disediakan di perpustakaan. Pelayanan yang menyenangkan juga perlu dilakukan
dalam mengelola perpustakaan. Bagaimana mungkin akan tumbuh budaya baca jika
perpustakaan saja tidak punya.
Fasilitas lain yang juga dapat ditambahkan yaitu
jaringan internet. Anak-anak dapat menambah ilmu dengan membaca berita dari
internet. Dalam penggunaannya hendaknya guru juga mendampingi. Tujuannya agar
dalam mencari berita lewat internet dapat sesuai dengan usianya.
2.
Mengadakan lomba
Lomba untuk anak Sekolah Dasar yang dapat dilakukan di
sekolah misalnya lomba membuat sinopsis cerita, lomba menulis puisi, lomba
mengarang, lomba mading kelas, lomba seberapa banyak buku yang dibaca dalam
waktu tertentu, dan lain-lain. Sekolah sebaiknya juga memberikan hadiah/ reward
kepada siswa yang memenangkan lomba.
Lomba juga bisa dilaksanakan dalam rangka bulan
bahasa. Bulan bahasa biasanya diperingati setiap bulan Oktober. Dalam kegiatan
itu dapat dilakukan berbagai lomba. Kegiatan bulan bahasa sebaiknya dapat menjadi
agenda rutin yang dapat meingkatkan budaya baca di sekolah
Sebenarnya adanya lomba ini selain menumbuhkan
budaya, membaca juga dapat sebagai sarana untuk melihat potensi anak. Jika ada
perlombaan yang sejenis, sekolah dapat mengirimkan dari yang berhasil
memenangkan lomba tersebut sesuai prestasinya.
3.
Mengadakan pembelajaran di perpustakaan
Guru kelas di Sekolah Dasar hendaknya sering melakukan
pembelajaran di perpustakaan. Pembelajaran terutama pembelajaran pada muatan
Bahasa Indonesia. Anak dapat diajarkan membuat sinopsis, menanggapi rubrik
majalah, mengarang, dan sebagainya.
Pembelajaran di perpustakaan sebenarnya bisa saja
dilakukan pada muatan pembelajaran selain Bahasa Indonesia. Misalnya pada
pelajaran SBK. Anak-anak dapat mencontoh gambar yang ada di majalah. Dengan
demikian anak akan lebih termotivasi untuk selalu mengunjungi perpustakaan.
4.
Bekerjasama dengan perpustakaan keliling
Selain perpustakaan sekolah siswa juga dapat
meminjam buku di perpustakaan keliling. Kegiatan kerjasama dengan perpustakaan
keliling dilakukan sekolah agar siswa lebih banyak variasi dalam membaca buku.
Buku yang ada juga akan lebih banyak dan sesuai dengan keinginan siswa.
Perpustakaan keliling merupakan bentuk kerja sama
sekolah dengan lingkungan sekitar dan sangat bermanfaat. Guru dan siswa dapat
meminjam buku yang dari perpustakaan keliling. Bahkan guru juga dapat memesan
buku yang diinginkan dari perpustakaan keliling.
5.
Teladan dari Guru
Guru merupakan teladan dalam hal membaca yang patut
dicontoh oleh peserta didik. Guru yang
gemar membaca biasanya akan mempengaruhi
siswanya agar hobi membaca. Guru sebaiknya membudayakan membaca. Misalnya
ketika istrihat banyak guru yang membaca di perpustakaan sekolah. Hal ini tentu
akan lebih menarik siswa untuk mengikuti jejak gurunya.
Guru dapat memotivasi siswa untuk gemar membaca
dengan mengadakan lomba di kelasnya masing-masing. Misalnya dengan lomba
membuat sinopsis cerita. Selain diadakan di tingkat sekolah, lomba ini dapat
diadakan di kelas. Hadiah yang diberikan dapat memotivasi siswa untuk lebih
suka membaca.
6.
Membaca 10 menit setiap hari
Membaca sepuluh menit setiap hari ini dapat
dilakukan seperti di Jepang. Pada anak-anak usia Sekolah di Jepang anak-anak dibiasakan untuk membaca setiap hari.
Guru memberikan reward dan punishment terhadap kegiatan tersebut.
Kebiasaan ini sangat efeketif di Jepang dan sudah berjalan sekitar 30 tahun. Membaca
setiap hari dapat dilakukan di kelas
sebelum atau sesudah pembelajaran.
Kita bangsa Indonesia sebaiknya menjadikan Jepang
sebagai contoh dalam menumbuhkan budaya baca.
Sejak dini seharusnya anak-anak dibiasakan membaca terutama di Sekolah
Dasar. Anak Sekolah Dasar yang sudah bisa membaca, sudah dapat memahami apa
yang dibacanya.
7.
Menyediakan perpustakaan kelas
Perpustakaan kelas dapat diadakan dengan kerjasama dengan wali siswa. Masing-masing
siswa dapat menyumbangkan satu buah buku setiap siswa setiap tahun. Dengan
kegiatan ini maka pada waktu istirahat dapat dilakukan dengan membaca di kelas. Anak-anak akan membeli buku yang disukainya.
Buku dapat dibaca secara bergantian. Dengan yang membeli buku yang disukainya, siswa
akan memilih sesuai dengan yang
disukainya.
Membaca di kelas juga dapat mengurangi kegiatan
siswa yang kurang bermanfaat. Misalnya kegiatan bermain yang terkadang membuat
siswa bertengkar bahkan dapat mengakibatkan salah satu siswa menangis. Memang
tidak semua anak hobi membaca, namun banyak anak yang belum tahu tentang
minatnya, dapat diarahkan untuk kegiatan membaca.
8.
Kerjasama dengan orang tua
Lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap
kebiasaan siswa. Maka hendaknya orang tua juga menanamkan kebiasaan membaca di
rumah. Kebiasaan yang dilakukan di rumah tentu akan menjadi kebiasaan di
sekolah.
Orang tua hendaknya juga memberikan fasilitas di
rumah. Misalnya adannya perpustakaan pribadi di rumah. Perpustakaan dapat
dibuat sedemikian menarik sehingga anak lebih tertarik untuk membaca buku.
Orang tua juga perlu mengajak anak ke toko untuk membeli buku. Kegiatan membaca
dapat meminimalisir anak untuk mengurangi kegiatan menonton televisi.
9.
Mengajak siswa ke pameran buku
Kegiatan mengajak siswa ke pameran buku,
sebaiknya dibudayakan sekolah. Kegiatan ini dapat menjadikan siswa lebih mencintai buku
dibanding dengan kegiatan yang lain. Siswa juga lebih banyak tahu tentang
buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit.
Dalam kegiatan pameran buku dapat
diterangkan kepada siswa bahwa kegiatan
membaca banyak manfaatnya. Dengan banyak membaca biasanya akan menambah ilmu dan bisa menulis. Sedangkan kegiatan
menulis dapat mendatangkan uang misalnya dengan menulis cerpen dan buku.
Kegiatan menumbuhkan minat baca di
Sekolah Dasar sebaiknya dapat dilakukan dengan selalu bekerja sama dengan
berbagai pihak. Misalnya dengan orang tua, guru, masyarakat sekitar,
diantaranya dengan kerjasama dengan perpustakaan daerah. Dengan adanya kerja sama
tersebut diharapkan dapat menumbuhkan budaya membaca yang akan membudaya hingga
kelak mereka menjadi dewasa. Dengan
budaya membaca sejak SD diharapkan akan dapat meningkatkan mutu Sekolah
Dasar.
Identitas Penulis
Nama : Purwantiningsih, S.Pd., M.Pd.I.
Pekerjaan : Guru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar