Senin, 02 Oktober 2017

Menumbuhkan Budaya Baca di Sekolah Dasar

Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, tak terkecuali siswa Sekolah Dasar (SD).  Adanya televisi yang menyajikan  tontonan menarik seperti kartun,  game dari gadget yang menyajikan banyak permainan yang menarik sangat berpengaruh terhadap kehidupan siswa. Tidak heran jika anak-anak SD lebih suka di depan televisi daripada belajar, apalagi membaca buku.
Saat ini budaya  baca  di Indonesia masih sangat rendah.    Duta Baca Nasional Najwa Shihab  menyampaikan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat kurang. Menurut survei UNESCO tahun 2015,  minat baca masyarakat Indonesia sebesar 0,001 persen atau  hanya  satu dari 1000 orang Indonesia yang suka membaca. Menurut  kajian Perpustakaan Nasional pada 2015 angka minat baca  Indonesia masih rendah yakni di angka 25,1.
Dengan minat baca yang rendah, maka tentu budaya baca belum menjadi sesuatu yang menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia. Buktinya,  jika kita melihat anak-anak di hari libur masih banyak anak yang lebih suka bermain game dan menonton televisi daripada membaca. Buku-buku selain buku pelajaran  juga jarang ditemukan di tas anak-anak  Sekolah Dasar.
Ada beberapa bukti lain bahwa membaca belum menjadi budaya pada masyarakat kita. Dapat kita lihat misalnya sedikitnya pengunjung perpustakaan daerah. Perpustakaan sekolah juga  hanya sedikit yang mengunjungi. Anak-anak lebih suka bermain pada saat istirahat di sekolah. Masih banyak juga guru yang tidak suka membaca buku baik di rumah maupun di sekolah..
Masyarakat akan lebih maju  jika mempunyai budaya baca yang tinggi. Sebagai contoh di Jepang. Masyarakat Jepang terbiasa membaca di manapun berada. Budaya baca sudah menjadi  suatu yang dapat dilihat di Jepang.  Pada  transportasi umum di Jepang, orang lebih suka memegang dan membaca buku daripada alat komunikasi.
Membaca banyak manfaatnya. Orang yang banyak membaca akan mempunyai daya pemahaman yang lebih dibanding dengan orang yang tidak suka membaca. Daya ingat orang yang suka membaca akan lebih baik. Pengetahuan dan wawasan  bertambah dan dengan membaca juga akan lebih  dapat mengatasi masalah.
Membaca tidak hanya membaca buku. Membaca dapat dilakukan dengan membaca dari internet. Namun membaca pengetahuan dari internet terkadang belum tentu benar tentang  isi beritanya. Maka meskipun membaca internet,  tetapi harus didukung dengan membaca buku. Bagi anak Sekolah Dasar,  bimbingan dan pendampingan dari orang tua sangat dibutuhkan.
Usia anak Sekolah Dasar yang cenderung meniru sebaiknya diarahkan untuk hal yang positif diantaranya dengan membaca.  Membaca yang dilakukan sejak dini dapat menumbuhkan budaya membaca sampai remaja bahkan dewasa. Dengan membaca karakter anak juga akan lebih baik. Tentunya buku yang disajikan sebaiknya yang mengandung nilai moral yang baik.
Bacaan sangat berpengaruh dalam pendidikan anak Sekolah Dasar. Karena kepribadian anak dapat terbentuk dengan membaca. Anak yang suka membaca akan lebih dalam ilmu yang dia miliki. Jika dia suka membaca buku cerita, bisa saja akhlaknya akan semakin bagus karena tentu akan melakukan seperti apa yang dia baca, Misalnya bahwa orang yang bebuat baik akan mendapat sesuatu yang baik pula.  
Dengan rendahnya budaya baca masyarakat Indonesia saat ini, sebenarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk  menumbuhkan budaya baca di Sekolah Dasar diantaranya:
1.      Pemberian fasilitas sekolah yang memadai
Fasilitas yang memadai sangat dibutuhkan dalam  menumbuhkan budaya membaca. Misalnya di Sekolah Dasar dapat disediakan perpustakaan yang lengkap. Berbagai buku dapat disediakan di perpustakaan. Pelayanan yang menyenangkan juga perlu dilakukan dalam mengelola perpustakaan. Bagaimana mungkin akan tumbuh budaya baca jika perpustakaan saja tidak punya.
Fasilitas lain yang juga dapat ditambahkan yaitu jaringan internet. Anak-anak dapat menambah ilmu dengan membaca berita dari internet. Dalam penggunaannya hendaknya guru juga mendampingi. Tujuannya agar dalam mencari berita lewat internet dapat sesuai dengan usianya.
2.      Mengadakan lomba
Lomba untuk anak Sekolah Dasar yang dapat dilakukan di sekolah misalnya lomba membuat sinopsis cerita, lomba menulis puisi, lomba mengarang, lomba mading kelas, lomba seberapa banyak buku yang dibaca dalam waktu tertentu, dan lain-lain. Sekolah sebaiknya juga memberikan hadiah/  reward kepada siswa yang memenangkan lomba.
Lomba juga bisa dilaksanakan dalam rangka bulan bahasa. Bulan bahasa biasanya diperingati setiap bulan Oktober. Dalam kegiatan itu dapat dilakukan berbagai lomba. Kegiatan bulan bahasa sebaiknya dapat menjadi agenda rutin yang dapat meingkatkan budaya baca di sekolah
Sebenarnya adanya lomba ini selain menumbuhkan budaya, membaca juga dapat sebagai sarana untuk melihat potensi anak. Jika ada perlombaan yang sejenis, sekolah dapat mengirimkan dari yang berhasil memenangkan lomba tersebut sesuai prestasinya.
3.      Mengadakan pembelajaran di perpustakaan
Guru kelas di Sekolah Dasar hendaknya sering melakukan pembelajaran di perpustakaan. Pembelajaran terutama pembelajaran pada muatan Bahasa Indonesia. Anak dapat diajarkan membuat sinopsis, menanggapi rubrik majalah, mengarang, dan sebagainya.
Pembelajaran di perpustakaan sebenarnya bisa saja dilakukan pada muatan pembelajaran selain Bahasa Indonesia. Misalnya pada pelajaran SBK. Anak-anak dapat mencontoh gambar yang ada di majalah. Dengan demikian anak akan lebih termotivasi untuk selalu mengunjungi perpustakaan.
4.      Bekerjasama dengan perpustakaan keliling
Selain perpustakaan sekolah siswa juga dapat meminjam buku di perpustakaan keliling. Kegiatan kerjasama dengan perpustakaan keliling dilakukan sekolah agar siswa lebih banyak variasi dalam membaca buku. Buku yang ada juga akan lebih banyak dan sesuai dengan keinginan siswa.
Perpustakaan keliling merupakan bentuk kerja sama sekolah dengan lingkungan sekitar dan sangat bermanfaat. Guru dan siswa dapat meminjam buku yang dari perpustakaan keliling. Bahkan guru juga dapat memesan buku yang diinginkan dari perpustakaan keliling.
5.      Teladan dari  Guru
Guru merupakan teladan dalam hal membaca yang patut dicontoh oleh peserta didik.  Guru yang gemar membaca  biasanya akan mempengaruhi siswanya agar hobi membaca. Guru sebaiknya membudayakan membaca. Misalnya ketika istrihat banyak guru yang membaca di perpustakaan sekolah. Hal ini tentu akan lebih menarik siswa untuk mengikuti jejak gurunya.
Guru dapat memotivasi siswa untuk gemar membaca dengan mengadakan lomba di kelasnya masing-masing. Misalnya dengan lomba membuat sinopsis cerita. Selain diadakan di tingkat sekolah, lomba ini dapat diadakan di kelas. Hadiah yang diberikan dapat memotivasi siswa untuk lebih suka membaca.
6.      Membaca 10 menit setiap hari
Membaca sepuluh menit setiap hari ini dapat dilakukan seperti di Jepang. Pada anak-anak usia Sekolah di Jepang  anak-anak dibiasakan untuk membaca setiap hari. Guru memberikan reward dan punishment terhadap kegiatan tersebut. Kebiasaan ini sangat efeketif di Jepang dan sudah berjalan sekitar 30 tahun. Membaca  setiap hari dapat dilakukan di kelas sebelum atau sesudah pembelajaran.
Kita bangsa Indonesia sebaiknya menjadikan Jepang sebagai contoh dalam menumbuhkan budaya baca.  Sejak dini seharusnya anak-anak dibiasakan membaca terutama di Sekolah Dasar. Anak Sekolah Dasar yang sudah bisa membaca, sudah dapat memahami apa yang dibacanya.
7.      Menyediakan perpustakaan kelas
Perpustakaan kelas dapat diadakan dengan  kerjasama dengan wali siswa. Masing-masing siswa dapat menyumbangkan satu buah buku setiap siswa setiap tahun. Dengan kegiatan ini maka pada waktu istirahat dapat dilakukan dengan membaca di kelas.  Anak-anak akan membeli buku yang disukainya. Buku dapat dibaca secara bergantian. Dengan yang membeli buku yang disukainya, siswa  akan memilih sesuai dengan yang disukainya.
Membaca di kelas juga dapat mengurangi kegiatan siswa yang kurang bermanfaat. Misalnya kegiatan bermain yang terkadang membuat siswa bertengkar bahkan dapat mengakibatkan salah satu siswa menangis. Memang tidak semua anak hobi membaca, namun banyak anak yang belum tahu tentang minatnya, dapat diarahkan untuk kegiatan membaca.
8.      Kerjasama dengan orang tua
Lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap kebiasaan siswa. Maka hendaknya orang tua juga menanamkan kebiasaan membaca di rumah. Kebiasaan yang dilakukan di rumah tentu akan menjadi kebiasaan di sekolah.
Orang tua hendaknya juga memberikan fasilitas di rumah. Misalnya adannya perpustakaan pribadi di rumah. Perpustakaan dapat dibuat sedemikian menarik sehingga anak lebih tertarik untuk membaca buku. Orang tua juga perlu mengajak anak ke toko untuk membeli buku. Kegiatan membaca dapat meminimalisir anak untuk mengurangi kegiatan menonton televisi.
9.      Mengajak siswa ke pameran buku
Kegiatan mengajak siswa ke pameran buku, sebaiknya dibudayakan sekolah. Kegiatan  ini dapat  menjadikan siswa lebih mencintai buku dibanding dengan kegiatan yang lain. Siswa juga lebih banyak tahu tentang buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit.
Dalam kegiatan pameran buku dapat diterangkan  kepada siswa bahwa kegiatan membaca banyak manfaatnya. Dengan banyak membaca biasanya akan menambah  ilmu dan bisa menulis. Sedangkan kegiatan menulis dapat mendatangkan uang misalnya dengan menulis cerpen dan buku.
Kegiatan menumbuhkan minat baca di Sekolah Dasar sebaiknya dapat dilakukan dengan selalu bekerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya dengan orang tua, guru, masyarakat sekitar, diantaranya dengan kerjasama dengan  perpustakaan daerah. Dengan adanya kerja sama tersebut diharapkan dapat menumbuhkan budaya membaca yang akan membudaya hingga kelak mereka menjadi dewasa.  Dengan budaya membaca sejak SD diharapkan akan dapat meningkatkan mutu Sekolah Dasar.

            Identitas Penulis
Nama               : Purwantiningsih, S.Pd., M.Pd.I.
Pekerjaan         : Guru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar