Sebuah karya ilmiah sangat
terkait dengan komitmen bukan pada kompetensi. Komitmen untuk tetap menulis.
Hal ini terutama untuk guru dan dosen.
Sebaiknya guru dan dosen mengalokasikan waktu untuk menulis. Menulis itu
persoalan hati yakni berkaitan dengan semangat. Guru merupakan profesi akademik
yang sangat berhubungan dengan tulisan. Marwah guru salah satunya pada
karyanya.
Kenapa guru harus menulis? Karena
guru yang paling terkait dengan pembentukan karakter/proses belajar mengajar.
Guru mempunyai pengalaman murni atau
otentik dan terus menerus. Dari guru mengajar, sangat dimungkinkan ada mutiara
yang sangat bernilai yang hanya diketahui oleh guru. Jika tidak dituliskan bisa
jadi itu menjadi hal yang sia-sia, sehingga pemanfaaatannya tidak maksimal.
Guru pantas menjadi informasi
primer dalam hal berbicara tentang pendidikan.
Pengalaman guru yang menarik/dialami jika dibagikan bisa menjadi rujukan
yang bagus.
Biasanya guru belum menulis
karena tidak PD, mungkin karena berfikir tulisan tidak bagus dsb (seperti saya
mungkin hihi).
Wibawa guru juga ditentukan oleh
refleksi lewat tulisan. Jika guru ingin terhormat/meningkatkan status sosial
harus menunjukkan aktualisasi diri terhadap pengalamannya. Guru memang punya
kepuasan tersendiri jika anak didiknya sukses, tapi itu hanya untuk dirinya.
Jika menulis, maka akan lebih bermanfaat buat orang lain.
Guru merupakan jabatan yang
paling terhormat di Finlandia. Misalnya ada orang ditanya ingin suami/istri
apa? Jawab mereka adalah guru. Di Finlandia menjadi guru itu tidak mudah. Menjadi
guru biasanya anak yang mendapat prestasi di sekolahnya. Mungkin itulah mengapa
guru disana lebih dihormati.
Seorang guru harus menulis agar lebih memberikan manfaat.
(Sebagian dari pemaparan Bapak
Dirjen yakni Bapak Prof. Dr. Phil. H. Kamarudin Amin, M.A. dalam acara diklat)
# Guru menulis
#Dosen menulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar