Suatu
hari setelah pulang sekolah saya merasa heran dengan motor saya yang standarnya
masih saja menggantung. Saya lihat ternyata pirnya tidak ada. Sebelumnya
sebenarnya saya sudah diberi tahu, tetapi saya kurang begitu paham. Akhirnya
saya jadi tahu mungkin itulah yang dikatakan penjaga sekolah saya mengenai
sepeda motor saya pagi itu.
Cara
satu-satunya yang bisa saya lakukan dengan sepeda motor saya adalah dengan
menali standar dengan tali rafia. Standar kemudian saya tali dengn rafia.
Tetapi tak enaknya jika setelah distandarkan kemudian ingin dikendarai maka
saya harus mengikat standar tersebut.
Saya
tidak bilang kejadian itu kepada suami. Maklumlah juga suami pulang sore dan
sudah lelah. Saya tidak ingin membebani suami dengan hal-hal kecil seperti itu.
Saya bertanya kepada teman berapa biaya kira-kira yang saya keluarkan untuk memperbaiki. Saya sendiri berprasangka
bahwa biaya yang saya keluarkan mungkin bisa sekitar ratusan ribu.
Siang
hari saat pulang sekolah, saya sempatkan ke bengkel di dekat jalan untuk
perbaiki standar saya. Dia tanpa pikir panjang saya bertanya,” Pak, bisa ganti
standar saya yang hilang pirnya?”
“O,
bisa, coba saya cari pirnya,” jawab Bapak itu.
Ternyata
hanya cukup diganti pirnya saja bukan standarnya juga. Dengan cekatan Bapak itu
mengganti pir yang rusak. Alhamdulillah hanya sekejab selesai. Ternyata kenyataan lebih baik dari apa yang
kita pikirkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar