Senin, 19 Maret 2018

Hadiah untuk Ibu



Bel tanda masuk kelas berbunyi. Anak-anak berlarian menuju kelas masing-masing. Tak ketinggalan aku juga bergegas menuju ruang perpustakaan sekolah untuk melaksanakan tugasku setiap hari selain mengajar.
Hari ini aku tidak mengajar pagi. Aku berencana mengerjakan administrasi perpustakaan mulai dari lapor bulan, lapor triwulan, dan menata buku yang berserakan di perpustakaan karena kemarin setelah istirahat terakhir aku mengajar. Setelah itu aku akan membersihkan dan menata dagangan di koperasi.
Sewaktu aku sedang asyik menulis kudengar suara memanggilku, “ Bu kelas VI kosong, tolong diisi dulu”. Ternyata itu Ibu Kepala Sekolah. “Ya, Bu”, jawabku.
Aku segera menuju ke ruang kelas VI karena guru kelasnya kebetulan ada kepentingan sehingga berangkat agak siang. Namun selang beberapa menit aku mengajar Bapak Sugeng yang merupakan guru kelas VI datang sehingga aku kembali lagi ke perpustakaan.
Kulanjutkan tugasku, dan setelah selesai kucoba membaca-baca buku yang ada di perpustakaan. Saat aku membaca  Pak Suhar yang merupakan tukang kebun  yang biasa membuatkan minum di sekolahku datang dengan membawa air minum yang masih hangat. “Bu ini minumnya,” kata Pak Suhar. “Maaf Pak, saya puasa hari ini,“ kataku.” O,ya ini kan kamis ya, saya lupa, biasanya kan puasa,” kata Pak Suhar. Ia segera berlalu dan kembali melakukan tugasnya yang lain.
            Waktu istrahat telah tiba. Anak-anak ada yang berlari ke koperasi, halaman, dan ke perpustakaan. Aku segera menuju ke koperasi sekolah.  Meski ada anak yang berjaga tapi aku tetap mengawasi karena kadang anak yang berjaga belum datang lebih awal. Tiba-tiba ada yang memanggilku, “Bu Ani,  saya mau pinjam buku”. Aku kemudian menuju ke  perpustakaan dan mencatat buku yang dipinjam  anak tersebut.
Begitulah keseharianku  di sekolah. Dan meskipun melelahkan kujalani dengan senang hati karena aku bersyukur telah mendapat sekolah tempat aku menjadi guru. Lebih baik bekerja dari pada menganggur, meskipun sebagai GTT gajinya tak seberapa. Aku percaya akan janji Tuhan. Aku juga berprinsip seperti apa yang dikatakan seorang motivator. “Bekerjalah jangan mengharap berapa kita akan digaji tapi kita layak digaji berapa.” Jadi aku tidak memperdulikan berapa aku digaji tapi seberapa yang bisa aku berikan ditempat aku bekerja.
            Setelah waktu istirahat berakhir, aku pergi ke ruang guru untuk mengikuti rapat dewan guru. Dalam rapat itu dimusyawarahkan tentang acara perpisahan sekolah. Ternyata dana perpisahan sekolah masih belum mencukupi. Salah satu Bapak Guru mengusulkan bahwa untuk dana les yang diberikan  disumbangkan untuk dana perpisahan sekolah.” Bagaimana Bapak Ibu, apakah bisa disetujui?” tanya Bu Kepala Sekolah. Delapan puluh persen Bapak Ibu guru menyetujui. Aku hanya diam. Aku masih berpikir karena uang les  satu semester yang akan diberikan  sebenarnya akan kubelikan cincin yang meskipun kecil akan kuberikan kepada ibu di saat hari ibu di bulan Desember. Akhirnya jadilah keputusan bahwa honor les yang diterima disumbangkan untuk acara perpisahan sekolah. “Ya Allah semoga Engkau mengganti dengan yang lebih baik,” doaku dalam hati.
Selang beberapa waktu acara perpisahan pun telah dilaksanakan dan  berjalan lancar. Semua pihak diundang dalam acara perpisahan itu. Namun aku tidak mengikuti acara tersebut karena hari itu hari pendaftaran terakhir CPNS dan aku baru akan memasukkan lamaranku untuk mengikuti tes CPNS.
Beberapa waktu kemudian dilaksanakan tes. Satu bulan setelah tes diumumkan hasil ujian CPNS. Alhamdulillah namaku ada dalam daftar yang telah diumumkan lulus di sebuah koran. Aku langsung  menuju ke instansi tempat aku mendaftar. Ternyata benar namaku  ada di sana. Setelah kucocokkan dengan nomor ujian ternyata sama. Terimakasih Tuhan Engkau telah mengabulkan doaku. Engkau telah memberikan yang lebih baik bagi hambaMu ini.
Aku segera pulang untuk memberi tahu orang tuaku. Mereka sangat bahagia sekali mendengarnya. Mereka berencana akan mengadakan syukuran jika SK sudah jadi, meskipun masih mengunggu beberapa waktu lagi.
Hari Senin saat aku ke sekolah seperti biasa, aku menyampaikan hasil pengumuman kepada Bapak Ibu guru di sekolah. Mereka menyampaikan selamat. Salah seorang guru berkata,”Wah kalau Bu Ani nanti pindah siapa yang akan mengajar pramuka dan mengurusi koperasi ya?”  Mungkin nanti ada lagi yang mendaftar jadi guru di sini Bu,” jawabku.
 Selang beberapa waktu bulan Desember tepatnya hari ibu telah tiba. Aku menyampaikan selamat hari ibu kepada Ibuku. Kusampaikan bahwa aku tidak bisa memberikan apa-apa, tetapi semoga keberhasilanku telah lulus ujian CPNS bisa membahagiakan hati Ibu. Ibuku berkata,” Ibu telah bersyukur kamu telah berhasil mencapai yang kamu harapkan. Ibu hanya berharap di tempat kerjamu yang baru besuk, kamu dapat bekerja seperti saat kamu bekerja di sekolahmu dulu, biar gajinya juga berkah”. Aku tak sanggup berkata-kata hanya mengangguk saja dan kupeluk ibuku dengan erat. “Terima kasih Ibu atas doa-doa yang selalu kau panjatkan untuk anakmu ini,” ucapku dalam hati.
  Ternyata memberikan sesuatu yang mungkin berharga bagi kita dengan keikhlasan akan berbuah kebaikan juga bagi diri kita. Sedekah itu tidak hanya berupa uang tapi juga bisa dengan berupa tenaga.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar