Bel
tanda masuk kelas berbunyi. Anak-anak berlarian menuju kelas masing-masing. Tak
ketinggalan aku juga bergegas menuju ruang perpustakaan sekolah untuk
melaksanakan tugasku setiap hari selain mengajar.
Hari
ini aku tidak mengajar pagi. Aku berencana mengerjakan administrasi
perpustakaan mulai dari lapor bulan, lapor triwulan, dan menata buku yang
berserakan di perpustakaan karena kemarin setelah istirahat terakhir aku
mengajar. Setelah itu aku akan membersihkan dan menata dagangan di koperasi.
Sewaktu
aku sedang asyik menulis kudengar suara memanggilku, “ Bu kelas VI kosong,
tolong diisi dulu”. Ternyata itu Ibu Kepala Sekolah. “Ya, Bu”, jawabku.
Aku
segera menuju ke ruang kelas VI karena guru kelasnya kebetulan ada kepentingan
sehingga berangkat agak siang. Namun selang beberapa menit aku mengajar Bapak
Sugeng yang merupakan guru kelas VI datang sehingga aku kembali lagi ke perpustakaan.
Kulanjutkan
tugasku, dan setelah selesai kucoba membaca-baca buku yang ada di perpustakaan.
Saat aku membaca Pak Suhar yang
merupakan tukang kebun yang biasa
membuatkan minum di sekolahku datang dengan membawa air minum yang masih
hangat. “Bu ini minumnya,” kata Pak Suhar. “Maaf Pak, saya puasa hari ini,“ kataku.”
O,ya ini kan kamis ya, saya lupa, biasanya kan puasa,” kata Pak Suhar. Ia
segera berlalu dan kembali melakukan tugasnya yang lain.
Waktu istrahat telah tiba. Anak-anak ada yang berlari ke
koperasi, halaman, dan ke perpustakaan. Aku segera menuju ke koperasi sekolah. Meski ada anak yang berjaga tapi aku tetap
mengawasi karena kadang anak yang berjaga belum datang lebih awal. Tiba-tiba
ada yang memanggilku, “Bu Ani, saya mau
pinjam buku”. Aku kemudian menuju ke
perpustakaan dan mencatat buku yang dipinjam anak tersebut.
Begitulah
keseharianku di sekolah. Dan meskipun melelahkan
kujalani dengan senang hati karena aku bersyukur telah mendapat sekolah tempat
aku menjadi guru. Lebih baik bekerja dari pada menganggur, meskipun sebagai GTT
gajinya tak seberapa. Aku percaya akan janji Tuhan. Aku juga berprinsip seperti
apa yang dikatakan seorang motivator. “Bekerjalah jangan mengharap berapa kita
akan digaji tapi kita layak digaji berapa.” Jadi aku tidak memperdulikan berapa
aku digaji tapi seberapa yang bisa aku berikan ditempat aku bekerja.
Setelah waktu istirahat berakhir, aku pergi ke ruang guru
untuk mengikuti rapat dewan guru. Dalam rapat itu dimusyawarahkan tentang acara
perpisahan sekolah. Ternyata dana perpisahan sekolah masih belum mencukupi.
Salah satu Bapak Guru mengusulkan bahwa untuk dana les yang diberikan disumbangkan untuk dana perpisahan sekolah.”
Bagaimana Bapak Ibu, apakah bisa disetujui?” tanya Bu Kepala Sekolah. Delapan
puluh persen Bapak Ibu guru menyetujui. Aku hanya diam. Aku masih berpikir
karena uang les satu semester yang akan
diberikan sebenarnya akan kubelikan
cincin yang meskipun kecil akan kuberikan kepada ibu di saat hari ibu di bulan
Desember. Akhirnya jadilah keputusan bahwa honor les yang diterima disumbangkan
untuk acara perpisahan sekolah. “Ya Allah semoga Engkau mengganti dengan yang
lebih baik,” doaku dalam hati.
Selang
beberapa waktu acara perpisahan pun telah dilaksanakan dan berjalan lancar. Semua pihak diundang dalam
acara perpisahan itu. Namun aku tidak mengikuti acara tersebut karena hari itu
hari pendaftaran terakhir CPNS dan aku baru akan memasukkan lamaranku untuk
mengikuti tes CPNS.
Beberapa waktu kemudian dilaksanakan tes. Satu bulan
setelah tes diumumkan hasil ujian CPNS. Alhamdulillah namaku ada dalam daftar
yang telah diumumkan lulus di sebuah koran. Aku langsung menuju ke instansi tempat aku mendaftar.
Ternyata benar namaku ada di sana. Setelah
kucocokkan dengan nomor ujian ternyata sama. Terimakasih Tuhan Engkau telah
mengabulkan doaku. Engkau telah memberikan yang lebih baik bagi hambaMu ini.
Aku segera pulang untuk memberi tahu orang tuaku. Mereka
sangat bahagia sekali mendengarnya. Mereka berencana akan mengadakan syukuran
jika SK sudah jadi, meskipun masih mengunggu beberapa waktu lagi.
Hari Senin saat aku ke sekolah seperti biasa, aku
menyampaikan hasil pengumuman kepada Bapak Ibu guru di sekolah. Mereka
menyampaikan selamat. Salah seorang guru berkata,”Wah kalau Bu Ani nanti pindah
siapa yang akan mengajar pramuka dan mengurusi koperasi ya?” Mungkin nanti ada lagi yang mendaftar jadi
guru di sini Bu,” jawabku.
Selang beberapa
waktu bulan Desember tepatnya hari ibu telah tiba. Aku menyampaikan selamat
hari ibu kepada Ibuku. Kusampaikan bahwa aku tidak bisa memberikan apa-apa,
tetapi semoga keberhasilanku telah lulus ujian CPNS bisa membahagiakan hati
Ibu. Ibuku berkata,” Ibu telah bersyukur kamu telah berhasil mencapai yang kamu
harapkan. Ibu hanya berharap di tempat kerjamu yang baru besuk, kamu dapat
bekerja seperti saat kamu bekerja di sekolahmu dulu, biar gajinya juga berkah”.
Aku tak sanggup berkata-kata hanya mengangguk saja dan kupeluk ibuku dengan
erat. “Terima kasih Ibu atas doa-doa yang selalu kau panjatkan untuk anakmu
ini,” ucapku dalam hati.
Ternyata
memberikan sesuatu yang mungkin berharga bagi kita dengan keikhlasan akan
berbuah kebaikan juga bagi diri kita. Sedekah itu tidak hanya berupa uang tapi juga
bisa dengan berupa tenaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar